Prospek Muhammadiyah Indonesia

Just another WordPress.com weblog

Misi Muhammadiyah

Misi Muhammadiyah

Rosyad Sholeh
Selasa, 22 April 2008

ImageSetiap organisasi, termasuk Muhamma-diyah, tentu memiliki misi tertentu  yang diembannya. Sejak sebuah organisasi didirikan, para pendirinya sudah merancangkan langkah-langkah strategis apa yang perlu dilakukan, agar cita-cita yang ingin dicapai dengan mendirikan organisasi itu bisa diwujudkan. Misi yang merupakan tugas utama organisasi yang sifatnya mendasar dan fundamental, mempunyai posisi dan peranan yang sangat penting dan strategis bagi sebuah organisasi. Di samping misi itu menjadi semacam “penuntun” bagi semua komponen organisasi kearah pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, ia juga menjadi pembeda antara organisasi yang satu dengan organisasi lainnya yang bergerak di bidang yang serupa. Dengan perkataan lain, misi membentuk organisasi memiliki ciri yang khas, yang membedakannya dari organisasi lainnya yang sejenis.

Melihat pentingnya posisi dan peranan misi bagi setiap organisasi, maka seperti halnya tujuan organisasi, menjadi sebuah prinsip yang tidak bisa ditawar, bahwa misi organisasi itu harus dirumuskan dengan rumusan yang jelas. Dalam perumusan sebuah misi, menurut seorang pakar manajemen stratejik, yaitu Prof. DR. S.P. Siagian, MPA, ada beberapa ciri yang harus tergambar dalam misi itu, antara lain: pertama, ia merupakan suatu pernyataan yang bersifat umum dan berlaku untuk kurun waktu yang panjang tentang ‘niat’ organisasi yang bersangkutan; kedua, ia mencakup filsafat yang dianut dan akan digunakan oleh organisasi itu; ketiga, secara implisit menggambarkan citra yang hendak diproyeksikan ke masyarakat luas; keempat, ia merupakan pencerminan jati diri yang ingin diciptakan, ditumbuhkan dan dipelihara; kelima, menunjukkan produk apa yang menjadi andalan dari organisasi dan keenam, menggambarkan kebutuhan apa dari masyarakat yang akan diupayakan untuk dipuaskan oleh organisasi.

Ada banyak manfaat yang dapat dipetik dengan adanya rumusan sebuah misi organisasi. Di antara manfaat itu adalah bahwa dengan rumusan yang tepat, membuat anggota organisasi punya persepsi yang sama tentang maksud keberadaan organisasi. Ini penting, karena kesamaan persepsi pada gilirannya akan menimbulkan kesamaan gerak dan tindakan dalam menunaikan kewajiban dan tanggung jawab masing-masing, di samping juga menjadi semacam pendorong bagi anggota untuk memberikan kontribusi yang optimal kepada organisasi. Adanya rumusan yang jelas juga memudahkan bagi perumusan langkah dan program organisasi serta penentuan tipe dan struktur organisasi, baik vertikal maupun horizontal.

Di samping itu adanya rumusan misi yang jelas juga memudahkan orang luar untuk memahami apa sesungguhnya yang akan diusahakan oleh organisasi, dan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang setuju untuk memberikan dukungan, bahkan keinginan untuk bergabung dengan organisasi tersebut.
Memperhatikan demikian pentingnya peranan misi bagi sebuah organisasi, di samping mutlak perlunya rumusan yang jelas tentang misi tersebut, timbul pertanyaan, apakah dalam dokumen-dokumen resmi Persyarikatan sudah ada rumusan tentang misi Muhammadiyah itu? Kalau kita menelaah Anggaran Dasar Muhammadiyah, secara harfiah memang tidak ditemukan istilah misi.

Dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah, sejak Anggaran Dasar pertama sampai dengan Angaran Dasar keempatbelas, istilah yang digunakan -istilah mana semakna dengan istilah misi- adalah istilah maksud, kecuali Anggaran Dasar keempat dan kelima, yang menggunakan istilah hajat. Istilah misi kita jumpai pada tulisan para tokoh Muhammadiyah, terutama Ustadz H. Ahmad Azhar Basyir, MA Ketua PP Muhammadiyah periode 1990-1995, yang secara khusus pernah menulis tentang Misi Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam. Istilah misi dalam dokumen resmi, baru kita jumpai pada Keputusan Muktamar ke-44, khususnya pada Program Muhammadiyah Periode 2000-2005, yang secara eksplisit merumuskan visi dan misi Muhammadiyah.

Pada dokumen-dokumen tersebut, misi Muhammadiyah itu berkisar pada tiga pokok substansi, yang oleh Ustadz Ahmad Azhar disebut sebagai tiga pola perjuangan Muhammadiyah, yang secara eksplisit dirumuskan sebagai berikut: 1. Menegakkan keyakinan tauhid yang murni, sesuai dengan ajaran Allah SwT yang dibawa oleh seluruh Rasul Allah, sejak Nabi Adam as. hingga Nabi Muhammad saw; 2. Menyebarluaskan ajaran Islam yang bersumber kepada Al-Qur’an, Kitab Allah yang terakhir untuk umat manusia, dan Sunnah Rasul; 3. Mewujudkan amalan-amalan Islam dalam kehidupan peribadi, keluarga dan masyarakat.

Kalau kita cermati secara saksama rumusan misi Muhammadiyah tersebut, agaknya telah memenuhi kriteria sebagaimana telah dikemukakan di atas. Tiga butir misi yang satu sama lain merupakan satu rangkaian kesatuan yang tidak terpisahkan itu kiranya telah memenuhi ciri-ciri yang diisyaratkan oleh Prof. Dr. S.P. Siagian serta telah berhasil membentuk jati diri Muhammadiyah yang khas, yang membedakan Muhammadiyah dengan organisasi Islam lainnya, yang sama-sama bergerak di bidang dakwah. Jati diri Muhammadiyah yang telah berhasil dibangun melalui misi tersebut, bahwa Muhammadiyah adalah sebuah organisasi gerakan yang senantiasa berjuang menyebarluaskan ajaran Islam, yang selalu berpegang teguh pada keyakinan tauhid yang murni serta berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.

Semua aktivitas Muhammadiyah yang memasuki seluruh aspek kehidupan pada hakekatnya merupakan perwujudan dari misi tersebut. Tidak ada aktivitas Muhammadiyah yang terlepas dari misi tersebut, apalagi sampai bertentangan dengan semangat dan jiwa yang terkandung di dalamnya. Bahkan tidak hanya itu. Misi Muhammadiyah tersebut tidak hanya menjadi ciri bagi Muhammadiyah secara kelembagaan, tetapi seharusnya juga menjadi ciri bagi setiap individu dalam Muhammadiyah. Ciri orang Muhammadiyah yang menonjol adalah bahwa dia memiliki keyakinan tauhid yang kokoh dan sangat peka terhadap paham, keyakinan, kepercayaan dan sebagainya yang berbau syirik, yang dapat merusak keyakinan tauhidnya. Di samping itu, orang Muhammadiyah adalah orang yang sangat giat berdakwah dan berusaha untuk mengamalkan ajaran Islam dalam keseharian hidupnya, tanpa bertanya apakah hukum amalan itu wajib, sunnah atau mubah. Semua amalan yang telah dituntunkan dan dicontohkan oleh Rasul Allah Muhammad saw, diusahakan untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah para aktivis dan pimpinan Muhammadiyah sudah seperti itu?

———

Suara Muhammadiyah, April Minggu Kedua 2008

Mei 24, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

BERMUHAMMADIYAH IDEOLOGIS AN-SICH, ADAKAH?

7 11 2007

Krisis kader yang menjadi problem Muhammadiyah, organisasi Islam modern terbesar di dunia, kini bukan wacana lagi, tetapi sudah mewujud dan konkrit serta menggejala dalam scoupe nasional. Degradasi kuantitas dan kualitas pelopor, pelangsung dan penyempurna amanah gerakan sangat terasa sekali mempengaruhi denyut nadi persyarikatan. Ada beberapa hal yang bisa kita jadikan indikasi terhadap hal ini. Pertama, sulitnya mencari orang yang mau menjadi pengurus Muhammadiyah, terutama pada level grass root. Hal ini menjadi faktor penyebab indikasi kedua yakni bertumpuknya jabatan sebagai pengurus Muhammadiyah dan/atau majelis dan ortomnya secara struktural-vertikal maupun struktural horisontal.

Ghirah berMuhammadiyah ini mulai terasa luntur pasca reformasi, di mana euforia kebebasan berpolitik mendapatkan space yang luas kepada publik untuk menyalurkan aspirasinya melalui puluhan partai politik baru. Agaknya, hukum keseimbangan permintaan-penawaran dalam prinsip ekonomi liberal juga berlaku dalam politik Indonesia pasca reformasi. Karena parpol yang sekian banyaknya membutuhkan konstituen untuk mendukung eksistensi mereka, maka kerumunan massa menjadi berharga, tidak peduli apakah benar kerumunan massa tersebut akan menyalurkan aspirasi politiknya melalui parpol itu.

Spontan slogan ”suara rakyat adalah suara tuhan” seolah-olah benar terjadi dan hak pilih mempunyai nilai ekonomis, tidak hanya politis. Hak pilih kemudian menjadi komoditas yang bisa diperjual-belikan. Nilai jual hak pilih ini juga berbanding lurus dengan latar belakang orang yang memilikinya. Semakin tinggi status sosial seseorang, maka harga hak pilihnya semakin tinggi pula. Seorang kyai yang memiliki basis massa banyak memiliki bargaining position yang kuat untuk mendapatkan ”janji” posisi strategis oleh parpol kontestan pemilu, sedangkan harga hak pilih seorang kuli atau pekerja kasar lain mungkin hanya sebesar harga kebutuhan pangannya dalam sehari.

Sering kita dengar celotehan kaum miskin (miskin harta dan miskin amanah): ”Ikut kampanye parpol anu, dapat berapa?,” atau ”Mau kampanye, mana kaosnya?”, ”Mumpung bisa cari uang dari politik, daripada uang negara hanya dimakan mereka sendiri?”. Sehingga kemudian kita mengenal istilah ”politik sepuluh ewuan” atau ”politik kaos”, artinya orang yang menyalurkan aspirasi politiknya jika diberi uang kampanye sepuluh ribu atau diberi kaos parpol tertentu.

Materialistik

Fenomena baru dalam kehidupan masyarakat kita ini kemudian menjadi kebiasaan: mencari keuntungan finansial jangka pendek dari semua aktivitas yang dilakukan. Ucapan dan tindakan seseorang kemudian berparadigma UUD (ujung-ujungnya duit). Orang menjadi malas melakukan sesuatu jika tidak ada keuntungan ekonomis. Kerja-kerja sosial menempati posisi marginal dalam kamus kehidupan masyarakat kita.

Ekses negatifnya bagi persyarikatan Muhammadiyah adalah semakin berkurangnya jumlah orang yang mau menjadi pengurusnya. Orang pun membandingkan antara menjadi pengurus Muhammadiyah dengan menjadi pengurus organisasi sosial, organisasi semi-birokrat atau organisasi sosial lain. Siap menjadi pengurus dan aktivis Muhammadiyah berarti siap hidup susah, karena Muhammadiyah tidak menawarkan keuntungan material dan finansial bagi pengurusnya. Malah sebaliknya, menjadi pengurus Muhammadiyah harus rela mengorbankan hartanya demi perjuangan. Orang Jawa bilang: ”Opo-opoan iki”.

Alasan manipulatif

Krisis kader dan pengurus Muhammadiyah ini, jika kita hadapkan pada kenyataan banyaknya amal usaha yang dimiliki Muhammadiyah—artinya menggambarkan banyaknya karyawan amal usaha Muhammadiyah—menjadi suatu hal yang ironis. Karena seandainya saja karyawan amal usaha Muhammadiyah bisa optimal diberdayakan sebagai pengurus Muhammadiyah dan/atau ortomnya, maka niscaya krisis pengurus Muhammadiyah tidak akan terjadi.

Sebagian besar karyawan amal usaha Muhammadiyah, terutama pada amal usaha di daerah perkotaan atau amal usaha yang besar, bukanlah pengurus Muhammadiyah. Kalau di daerah, militansi karyawan amal usaha Muhammadiyah masih bisa dibanggakan. Karyawan amal usaha Muhammadiyah yang mbalelo dan hipokrit ini pada umumnya mengajukan sejuta argumentasi omong kosong jika kita memintanya ikut aktif sebagai pengurus Muhammadiyah dan/atau ortomnya. Beberapa alasan yang sering dikemukakan untuk menutupi kebohongannya adalah:

1. Saya ingin berjuang di Muhammadiyah dengan membesarkan amal usahanya, bukankah jika amal usahanya menjadi besar maka Muhammadiyah juga besar?, dan
2. Saya bermuhammadiyah secara kultural, bukankah jika ubudiyah seseorang sesuai dengan tuntunan Rasulullah maka dia dapat dikatakan Muhammadiyah?

Alasan-alasan di atas sering saya jumpai jika seorang karyawan amal usaha Muhammadiyah yang bersifat hipokrit ditawari menjadi pengurus persyarikatan ini. Tanpa memperhatikan lebih dalam lagi, orang mudah percaya dan mentolerir. Padahal sesungguhnya alasan di atas hanyalah alasan yang diada-adakan dan sama sekali tidak berdasar.

Alasan pertama yang mengatakan bahwa mereka ingin berjuang untuk Muhammadiyah dengan membesarkan amal usahanya. Ini adalah penipuan. Kita harus bisa membedakan antara Muhammadiyah (sebagai persyarikatan) dengan amal usaha Muhammadiyah (sebagai unit dakwah bernilai ekonomis). Menjadi aktivis Muhammadiyah adalah kerja sosial yang tidak menuntut bayaran, sedangkan menjadi karyawan amal usaha adalah kerja ekonomis yang menuntut imbalan materi. Atau secara kasar dapat kita katakan, menjadi pengurus dan aktivis Muhammadiyah adalah berjuang dan menjadi karyawan amal usaha adalah berkerja. Orang akan dibayar (uang) jika membesarkan amal usaha, tetapi seseorang tidak akan dibayar jika dia membesarkan (persyarikatan) Muhammadiyah. Setiap tugas dalam amal usaha berorientasi profit bagi pelakunya sedangkan setiap tugas dalam persyarikatan berorientasi eskatologis. Amal usaha adalah imanen sedangkan persyarikatan adalah transenden.

Alasan kedua yang menyatakan bahwa seseorang bisa dikatakan bermuhammadiyah hanya dengan berideologi Islam sama dengan ideologi Muhammadiyah, ini juga argumentasi manipulatif. Dalam kajian psikologis, seseorang yang mencintai atau menyukai sesuatu akan mempunyai kecenderungan dalam dirinya untuk selalu dekat dan memberikan yang terbaik bagi apa yang dicintainya. Termasuk seseorang yang—jika memang—benar-benar mencintai dan menyukai Muhammadiyah akan berusaha dekat dan memberikan yang terbaik dari dirinya kepada Muhammadiyah. Implementasinya, dalam konteks persyarikatan, adalah ikut ngramut Muhammadiyah dalam tataran praktis-empiris, tidak sekedar ideologis.

Term Muhammadiyah secara ideologis berlaku untuk obyek dakwah yang belum atau baru mengenal Muhammadiyah, yang tujuannya agar obyek dakwah tersebut merasa bahwa mereka juga orang Muhammadiyah. Namun selanjutnya, pengertian Muhammadiyah merujuk pada ideologi dan gerakan, tidak hanya ideologi saja. Jika orang sudah masuk dalam lingkungan Muhammadiyah, maka dia harus menjadi pengurus atau aktivis Muhammadiyah jika ingin dikatakan sebagai orang Muhammadiyah. Jadi ada semacam perjenjangan pemahaman hakikat term bermuhammadiyah.

Karyawan amal usaha Muhammadiyah yang memberikan alasan kedua ini pada dasarnya adalah perusak Muhammadiyah, karena secara disadari atau tidak, dalam hatinya ada keengganan ngramut Muhammadiyah. ”Dadi pengurus gak dibayar, kerjo lak dibayar”, ”Kerjo yo kerjo, organisasi yo seje maneh”, ”lek kerjo gak popo nang Muhammadiyah, lek berjuang yo nang kelompokku dewe”, dan berbagai ungkapan lain yang senada.

Idealnya, amal usaha Muhammadiyah adalah penyokong gerakan Muhammadiyah. Ini bisa diartikan amal usaha Muhammadiyah seharusnya bisa diandalkan aktivisnya sebagai penopang ekonomi. Inilah maksud pesan KH. Ahmad Dahlan : ”Hidup-hidupilah Muhammadiyah, tetapi jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah”. Maknyanya, jika seseorang hidup dari amal usaha Muhammadiyah, maka secara ideologis dan organisatoris dia wajib bermuhammadiyah. Tetapi sebaliknya, seseorang yang bermuhammadiyah secara ideologis dan organisatoris tidak selalu mencari penghidupan di Muhammadiyah.

Gambaran di atas, memberikan kita gambaran bahwa masalah ini bisa menjadi bahaya laten persyarikatan. Sesungguhnya pemantik telah dinyalakan untuk membakar sumbu bom untuk meledakkan Muhammadiyah dan waktu telah dihitung mundur. Pertanyaannya, siapa yang mau memadamkannya?

AF. Kareem

Malang, 3 November 2007

sumber: http://pdpmgresik.wordpress.com/2007/11/07/bermuhammadiyah-ideologis-an-sich-adakah/

Mei 24, 2008 Posted by | Kaderisasi | Tinggalkan komentar

Muhammadiyah Diperdaya oleh Kepentingan

7 Mei 2008

Prof Hasyimsyah Nasution MA merupakan salah seorang dari sedikit intelektual yang dimiliki Muhammadiyah Sumut saat ini. Ia pernah digadang sebagai calon kuat posisi Ketua Umum Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumut periode 2005 – 2010 lalu. Apa katanya soal Muhammadiyah? Berikut wawancara saya dengannya beberapa waktu lalu.

Saat ini posisi agama sangat lemah dibanding dengan kekuasaan, bagaimana dengan Muhammadiyah di Sumut?
Muhammadiyah sendiri selalu diperdaya oleh berbagai kepentingan. Sekarang trend-nya sangat kuat terutama dengan arus politik waktu pilkada itu. Ya, terbawa-bawa juga orang muhammadiyah itu. Tapi kemudian oleh muhammadiyah itu dikatakan individu semata-mata. Tapi mau tidak mau berimbas juga kepada organisasi. Tapi sebenarnya tidak besar itu pengaruhnya di Muhammadiyah.

Mengapa?
Tidak ada yang bisa menggiring Muhammadiyah kepada satu partai. Artinya, individunya tetap pecah. Bahwa ketika individu berupaya membawa kepada suatu kepentingan partai atau kekuasaan, tertentu itu bisa terjadi. Tapi organisasinya tidak bisa. Umpamanya kasus di Medan (sewaktu pilkada Medan) muncul kecenderungan ada kelompok yang memihak Maulana dan Abdillah. Itu bisa terjadi antara pimpinan wilayah, daerah, dan organisasi otonomnya.

Muhammadiyah tidak bisa mengendalikan kader-kadernya sendiri?
Secara nasional, waktu muktamar memang ada masalah dengan pengkaderan di Muhammadiyah. Sekarang kader Muhammadiyah cenderung pada hal-hal yang pragmatis. Maka kader pun memberi imbas juga cara berpikir pragmatis ini. Pengkaderan itu tidak berjalan secara baik seperti diharapkan. Sangat sedikit atau menurun jumlah yang idealis. Tapi mungkin itu tidak satu-satunya faktor.

Kapan krisis kader bagaimana gerakan Tajdid itu sendiri ?
Tajdid itu up to date, pembaharuan, reformis. Nah, di muhammadiyah itu terasa tidak kelihatan lagi tajdidnya, terutama ketika 1970-an. Makin tidak kelihatan ketika tahun 1990-an sampai sekarang. Sekarang kan tidak hanya Muhammadiyah saja lagi organisasi Islam yang membuat rumah sakit dan taman kanak-kanak. Malah sekarang perguruan Muhammadiyah telah dikalahkan oleh beberapa orang yang dulu tidak dikenal.

Muhammadiyah telah terlena?
Sumatera Utara betul, terlena, terlena dengan kebesarannya. Tapi untuk Indonesia tidak.

Ada kritik bahwa ada kesejenjangan kader di wilayah dan daerah-daerah?
Salah satu upaya adalah mengembangkan universitasnya yang ada di daerah. Mesti ada usaha yang serius untuk melahirkan kader-kader yang militan. Dulu di Muhammadiyah Jakarta membikin pesantren tingkat tinggi, diambil dari mahasiswa yang bagus-bagus dan punya semangat mendalami agama. Di sini pernah dicoba tapi belum ada orientasi. Kader itu kan harus orang memiliki tingkat kecerdasan dan dedikasi yang tinggi.

Di Muhamadiyah Sumut, cuma ada Anda dan Yakub Matondang yang profesor?

Tidak hanya saya. Kalau yang aktif sekarang di pengurusan, ya, memang cuma saya. Tapi saya banyak tahu banyak profesor di kampus lain seperti di USU, Unimed, IAIN, ada para profesor Muhammadiyah. Mungkin hanya persoalan tidak memiliki kartu tapi concern ia.

Anda dulu disebut sebagai calon kuat?
Saya tidak tahu apa indikatornya. Saya memang hidup dalam keluarga muhammadiyah dan sejak kecil sejak dikampung sudah diikutkan dalam pertemuan atau pengajian di ranting-ranting. Sekolah juga begitu. Sebenarnya sangat mengasyikkan untuk ikut di pengurusan tingkat ranting itu karena ikatan emosionalnya sangat tinggi. Sedangkan ditingkat daerah dan apalagi wilayah, banyak mengurusi soal yang tumbuh, terutama amal usaha.

Anda juga dijadikan salah satu simbol intelektual di Muhammadiyah?
Mungkin ada betulnya. Saya ini kan guru besar dalam pemikiran Islam. Saya berdialog dan punya basic keilmuan Islam yang rasional bukan liberal. Tapi saya hidup dalam tradisi muhammadiyah yang paham keagamaannya konservatif. Jadi secara beragama saya konservatif tapi bila ada dialog dengan islam yang rasional saya bisa ikut. Di kalangan muda dan yang menginginkan pembaruan, mungkin melihat itu. Basic saya dari dulu itu di muballhigin muhammadiyah.

Anda Ulama atau Intelektual?
Ulama itu ‘kan orang yang berilmu. Cuma direduksi maknanya ulama itu menjadi hanya pada persoalan-persoalan agama. Persoalan agama ‘kan persoalan yang luas di kehidupan. Tidak bisa didekati persoalan agama hanya didekati oleh agama an sich. Mesti diikutkan intelektual ilmu lain. Yang kedua, persyaratan ulama dulu untuk menjadi seorang mujtahid sangat sulit dicari sekarang bahkan untuk mendekati kriteria itu. Orang dulu sangat generalis ilmunya. Karena itu mesti dihadirkan sejumlah orang untuk melihat persoalan. (*)

sumber: nirwansyahputra.wordpress.com

Mei 24, 2008 Posted by | Kaderisasi | Tinggalkan komentar

Krisis Kader Muhammadiyah

28 Maret 2008
Jalur Selatan

MAGELANG-Krisis kader yang mendera Muhammadiyah akan dicarikan solusinya oleh kader-kader muda ormas keagamaan itu se wilayah Kedu, melalui loka karya di Gedung PSBB MAN Magelang, Sabtu (29/3).

Acara yang digelar selama dua hari itu, akan diikuti kalangan Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul ”Aisyiah (NA), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan Tapak Suci Putera Muhammadiyah (TSPM).

’’Kegiatan ini merupakan upaya untuk mencari solusi terhadap krisis kader,’’ kata M Zuhron Arofi, ketua panitia, kemarin. Acara ini diselenggarakan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten dan Kota Magelang.
Menurut dia, jika persoalan ini tak segera diantisipasi sejak dini dikhawatirkan berdampak buruk pada eksistensi Muhammadiyah.(pr-39)

sumber:www.suaramerdeka.com

Mei 24, 2008 Posted by | Kaderisasi | Tinggalkan komentar

BERPIKIR DAN BEKERJA

BERPIKIR DAN BEKERJA

PERGULATAN ANTAR PEMIKIRAN DALAM MUHAMMADIYAH

Oleh : M. Muchlas Abror

Assalamu’alaikum wr. wb.

1. Alhamdulillah, Lembaga Pustaka dan Informasi (LPI) PP Muhammadiyah kembali dapat menyelenggarakan acara Kajian Tematik. Kajian Tematik yang berlangsung hari ini, di kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta, bertema “Muhammadiyah dari Masa ke Masa : Pergulatan Antar Pemikiran dalam Muhammadiyah”. Ini merupakan Kajian Tematik II. Kajian Tematik I telah berlangsung beberapa waktu yang lalu bertempat di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Semoga Kajian Tematik yang diselenggarakan oleh LPI dapat terus berlanjut tidak berhenti sampai pada Kajian Tematik II yang sekarang sedang berlangsung.

2. KH Ahmad Dahlan, sebagai pendiri Muhammadiyah, selagi hayat telah meletakkan dasar-dasar pemikiran tentang kehidupan manusia yang baik Untuk hidup baik maka manusia harus melakukan dua hal. Pertama, manusia dalam hidupnya harus berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Kedua, harus selalu menggunakan akal pikiran sesuai jiwa ajaran Islam. KH Ahmad Dahlan adalah hamba Allah yang memiliki kualitas tinggi. Kualitas dirinya, sebagaimana dapat kita baca dalam riwayat hidupnya, terlihat dalam beberapa elemen berikut ini : iman, amal shalih, dan ilmu. Pertama, iman. Beliau beriman secara benar, teguh, dan kokoh. Imannya yang benar merupakan penentu (barometer) nilai hidupnya. Imannya yang benar itu bertumpu pada keyakinan tauhid, mengesakan Allah. Imannya yang benar itu pula yang mendorongnya untuk berbuat banyak dalam hidupnya menuju ridha Allah. Kedua, amal shalih (amal baik). Amal shalihnya merupakan manifestasi dari iman yang benar. Amal shalihnya tidak dalam satu dimensi, tapi dalam multidimensi Kita semua mengakui.dan tak ada yang meragukannya. Ketiga, ilmu. Beliau adalah manusia yang berilmu. Untuk dapat merealisasikan amal shalih yang multidimensi itu, ilmu pengetahuan mutlak diperlukan sebagai sarananya. Beliau merupakan sosok manusia yang beramal ilmiyah dan berilmu amaliyah. Beliau merupakan gambaran manusia peneladan Rasulullah Muhammad saw. Organisasi atau persyarikatan yang didirikannya diberi nama Muhammadiyah, karena beliau berharap agar siapa saaja yang berada dalam Muhammadiyah benar-benar menjadi pengikut Nabi terakhir dan Rasul penutup secara baik dan menjadikannya sebagai uswah hasanah. Karena itu, kita dapat memahami, jika beliau mengingatkan kepada para pemimpin antara lain agar suka menambah ilmu dan dalam memimpin tidak berpikiran sempit. Beliau juga mengingatkan hendaknya para pemimpin harus terjun ke tengah masyarakat dan memberikan contoh yang baik, dapat mengendalikan nafsu, dan memperhatikan kesejahteraan umat manusia pada umumnya.

3. Para pengganti dan generasi penerus KH Ahmad Dahlan dari masa ke masa terus mengembangkan ide-ide dan pemikirannya untuk makin menyempurnakan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, gerakan da’wah, dan gerakan tajdid (pembaharuan). Dalam setiap Kongres atau Muktamar selalu muncul pikiran-pikiran dan pandangan-pandangan baru yang disebabkan munculnya tantangan dan permasalahan yang baru pula. Timbulnya majelis-majelis dan berbagai jenis amal usaha pada setiap periode merupakan jawaban juga terhadap tantangan pada zaman itu. Jadi, kalau kita renungkan, pemikiran-pemikiran Muhammadiyah dari masa ke masa merupakan upaya Muhammadiyah untuk mencari jalan keluar dalam mengatasi berbagai masalah yang berkaitan dengan gerak amal dan da’wahnya. Tapi, kita sebagai penerus perjuangan Muhammadiyah pada masa kini harus menyadari bahwa tidak ada suatu pemikiran yang sekaligus tuntas. Karena di dalam setiap pemikiran akan terkandung suatu pergulatan yang berlangsung dengan berbagai masalah yang sedang berkembang. Semua itu bagi Muhammadiyah merupakan usaha untuk mencari peluang yang lebih banyak dan lebih luas dalam mengamalkan nilai-nuilai ajaran Islam.

4. Dalam pergumulan dan pergulatan pemikiran, terutama dalam Muhammadiyah, kita harus memperhatikan dan mengindahkan beberapa rambu-rambu sebagai berikut :

a. Dalam menyampaikan pendapat dan mengemukakan pemikiran sampaikan secara baik dan santun. Tidak memandang pendapatnya sendiri yang paling benar dan memberi tempat bagi pendapat lain yang memberikan kemaslahatan kepada manusia sesuai dengan tujuan syariat Islam. Bukalah pintu berdialog bagi sesama agar orang lain dapat membanding-bandingkan berbagai pendapat dan kemudian kita dapat mengikuti pendapat yang lebih kuat dalil dan argumentasinya.

b. Hargailah dan hormatilah pendapat orang lain, meskipun berbeda dengan pendapat dan pemikiran kita. Kita sama sekali tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.

c. Jauhilah sikap keras. Apalagi sikap keras yang tidak sesuai dengan sitruasi, kondisi, dan waktu. Demikian pula tidak kasar. Sikap keras dan kasar hanyalah akan membuat orang lain lari, tidak simpati, bahkan menimbulkan antipati.

d. Jangan berburuk sangka kepada orang lain. Jangan memandang orang lain yang berbeda pendapat dengan kita dengan kacamata hitam sehingga yang terlihat hanya keburukannya dan segala kebaikannya tertutup, tidak tampak. Berburuk sangka menjadikan orang mudah menuduh dan menyalahkan orang lain. Suka mengritik orang lain dan menganggap dirinya yang paling suci dan benar.

e. Meskipun saling berbeda pendapat dan pemikiran, tapi hendaklah jangan sampai saling mengafirkan. Mereka yang berbeda pendapat dengan kita justru adalah teman kita berpikir. Karena itu harus tetap kita jaga ukhuwwah, bukan ‘adawah.

5. Muhammadiyah hingga kini hampir berumur satu abad. Selama dalam perjalanan itu Muhammadiyah telah banyak melahirkan pemikiran, ide, gagasan, dan konsep yang kemudian ditindaklanjuti dalam berbagai bentuk dan wujud amal usaha nyata dalam multibidang, misalnya, bidang pendidikan, bidang. kesehatan, bidang sosial, dan bidang ekonomi. Semua itu merupakan kontribusi nyata Muhammadiyah terhadap ummat, masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia, serta dunia kemanusiaan. Kita mengakui bahwa belum semua amal usaha Muhammadiyah itu berkualitas. Kuantitas jumlah amal usaha Muhammadiyah yang terus bertambah, seiring dengan itu harus segera diikuti dengan peningkatan kualitas. Peningkatan kualitas amal usaha Muhammadiyah merupakan keperluan yang sangat mendesak dan tidak boleh diundur atau ditunda lagi. Agar kehadiran amal usaha Muhammadiyah tetap dapat bersaing di tengah pergulatan dan pergumulan yang semakin ketat di samping umat dan masyarakat semakin dapat merasakan ni’mat dan beruntung atas kehadirannya.

6. Muhammadiyah berjuang memiliki maksud dan tujuan. Yaitu menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Untuk mencapai maksud dan tujuan yang dicita-citakannya itu, Muhammadiyah harus banyak berpikir dan bekerja. Adalah penting artinya bagi Muhamamdiyah berpikir sebelum bertindak atau sebelum mengerjakan segala sesuatu dalam berbagai aspek kehidupan, baik untuk pribadi, keluarga, apalagi hal yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat dan bangsa yang lebih luas. Tidak selayaknya bagi kita mengerjakan sesuatu secara asal-asalan dan serampangan, tanpa diawali oleh kegiatan berpikir yang sungguh-sungguh-sungguh. Berpikir bahkan menjadi ciri utama orang-orang yang termasuk dalam kelompok Ulil Albaab, yang dipuji dan dicintai Allah.

“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (QS Ali Imran [3] : 190 – 191)

Selain berpikir, Islam juga mendorong umatnya untuk senantiasa bekerja dan beramal. Tidak boleh seorang muslim bermalas-malasan. Ia harus berusaha untuk selalu produktif serta menghasilkan karya inovatif dan bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain dan masyarakat.

“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS At-Taubah [9] : 105).

Bekerja dan beramal yang dimaksud adalah bekerja dan beramal yang merupakan hasil dari proses berpikir. Sesuatu yuang diawali oleh proses berpikir akan memiliki hasil yang sangat visioner dan berorientasi jauh ke depan. Apalagi bagi orang yang mendapat amanah untuk mengurus kepentingan masyarakat dan negara. Termasuk kita yang kini sedang mendapat amanah memimpin Muhammadiyah. Kita harus selalu mengembangkan pola kepemimpinan yang bersumber dari proses berpikir yang profuktif, konstruktif, dan visioner. Selanjutnya kita ikuti dengan bekerja keras dan ikhlas.

7. Demikianlah sambutan yang dapat saya sampaikan pada pembukaan Kajian Tematik II yang mengambil tema “Muhammadiyah dari Masa ke Masa : Pergulatan Antar Pemikiran dalam Muhammadiyah”. Kepada Saudara-sauidara yang mendapat kesempatan untuk mengikuti Kajian Tematik yang sedang berlangsung ini, saya harap dapat mengambil banyak manfaat. Karena itu, ikutilah Kajian Tematik ini secara penuh, sampai selesai.

Akhirnya, kepada Bapak Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta yang telah berpartisipasi nyata dan memberi kesempatan kepada LPI untuk menyelenggarakan Kajian Tematik II di kampus ini, tiada lupa atas nama PP Muhammadiyah, kami mengucapkan terima kasih.

Sekian dan mohon maaf atas segala kekurangan.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

sumber: http://www.muhammadiyah.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=1116&Itemid=93

Mei 24, 2008 Posted by | Kaderisasi | Tinggalkan komentar

Live USA-Menteng, Dari Pendidikan, Krisis Ulama hingga Peran Politik

Arif Nur Kholis/ Joko Sumiyanto
Senin, 11 Februari 2008

Jakarta-Acara Silaturahim antara PCIM USA dan PP Muhammadiyah, Sabtu (9/02/2008) pukul 19.55 WIB itu berlangsung hangat. Pada awal acara, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin memperkenalkan kepada anggota PP Muhammadiyah yang hadir pada acara malam tersebut bahwa PCIM Amerika banyak terdiri dari expert di berbagai bidang. Setelah perkenalan anggota PP Muhammadiyah, perbincangan kemudian mengalir berkisar pada masalah peran Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan dinamika dakwah Islam di Indonesia.

Dalam bincang-bincang tersebut, Ketua PP Muhammadiyah yang membidangi masalah pendidikan, Prof. Malik Fajar, sempat memaparkan secara singkat program-program pendidikan Muhammadiyah. “Program-program tersebut sekarang sudah bisa diakses melalui website-website yang dimiliki Muhammadiyah” kata tokoh yang identik dengan kebangkitan UM Malang tersebut. Malik Fajar yang pernah menjabat sebagai menteri agama, menteri pendidikan dan menko kesra atinterim tersebut sempat ditanya tentang tentang peran muhammdiyah pada masalah pengentaskan kemiskinan.

Zainal Mutaqqien, mahasiswa S2/S3 pada Temple University, Philadelphia dalam kesempatan tersebut menanyakan tentang peran isu krisis ulama di Muhammadiyah. “Sekarang banyak orang bertanya-tanya bahwa muhammadiyah tidak memiliki ulama” kata Zen. Dengan spontan Ketua Umum, Din Syamsuddin, menjelaskan bahwa sebenarnya banyak ulama-ulama yang dihasilkan Muhammadiyah sampai saat ini. Diskusi yang sebelumnya direncanakan mulai pukul 19.30 WIB tersebut, kemudian berkembang dalam masalah politik. Dari New York, Dr. Yusmin Alim, alumni Cornell Univeristy, menanyakan peran Muhammadiyah di pemerintahan. Din menjawab bahwa Muhammadiyah memiliki banyak kader diberbagai partai politik dan kader non partisan di pemerintah. “ Disini mereka memiliki peran srtategis, walaupun muhammadiyah tidak berpolitik” terang Din kemudian.

Kontribusi PCIM USA Ditunggu
Dalam penutupan dialog, Din menyatakan bahwa warga Muhammadiyah harusnya merasa bangga dengan acara silaturahim seperti ini. Din berharap agar acara-acara seperti ini terus bisa berlangsung dan berkembang dengan melibatkan PCIM yang lain. Selain itu, Din juga menyampaikan harapannya akan partisipasi para expert di Amerika dan negara lainnya di dunia untuk berkontribusi positif pada perkembangan Dakwah Muhammadiyah. Selanjutnya Din berpesan, “Pemikiran-pemikiran para ahli Indonesia di Amerika dan negara lain di seluruh dunia sangat dibutuhkan dan senantiasa ditunggu”. (Arif)

sumber :

http://www.muhammadiyah.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=896&Itemid=2

Mei 24, 2008 Posted by | Kaderisasi | Tinggalkan komentar

Praktek Perawatan Jenazah


Salah satu materi yang diberikan kepada peserta diklat Imam Masjid berupa “Praktek Perawatan Jenazah”

Sumber http://www.grahadakwah.com/?file=./component/galeri/galeri.php&id=42

Mei 24, 2008 Posted by | Perawatan Jenazah | Tinggalkan komentar

Pemulasaraan Jenazah

Perawatan jenazah penderita penyakit menular dilaksanakan dengan selalu menerapkan kewaspadaan universal tanpa mengakibatkan tradisi budaya dan agama yang dianut keluarganya. Setiap petugas kesehatan terutama perawat harus dapat menasehati keluarga jenazah dan mengambil tindakan yang sesuai agar penanganan jenazah tidak menambah risiko penularan penyakit seperti halnya hepatitis-B, AIDS, kolera dsb. Tradisi yang berkaitan dengan perlakuan terhadap jenazah tersebut dapat diizinkan dengan memperhatikan hal yang telah disebut di atas, seperti misalnya mencium jenazah sebagai bagian dari upacara penguburan. Perlu diingat bahwa virus HIV hanya dapat hidup dan berkembang dalam tubuh manusia hidup, maka beberapa waktu setelah penderita infeksi-HIV meninggal, virus pun akan mati.

Beberapa pedoman perawatan jenazah adalah seperti berikut:
A. Tindakan di Luar Kamar Jenazah

1. Mencuci tangan sebelum memakai sarung tangan
2. Memakai pelindung wajah dan jubah
3. Luruskan tubuh jenazah dan letakkan dalam posisi terlentang dengan tangan di sisi atau terlipat di dada
4. Tutup kelopak mata dan/atau ditutup dengan kapas atau kasa; begitu pula mulut, hidung dan telinga
5. Beri alas kepala dengan kain handuk untuk menampung bila ada rembesan darah atau cairan tubuh lainnya
6. Tutup anus dengan kasa dan plester kedap air
7. Lepaskan semua alat kesehatan dan letakkan alat bekas tersebut dalam wadah yang aman sesuai dengan kaidah kewaspadaan universal
8. Tutup setiap luka yang ada dengan plester kedap air
9. Bersihkan tubuh jenazah dan tutup dengan kain bersih untuk disaksikan oleh keluarga
10. Pasang label identitias pada kaki
11. Bertahu petugas kamar jenazah bahwa jenazah adalah penderita penyakit menular
12. Cuci tangan setelah melepas sarung tangan

B. Tindakan di Kamar Jenazah

1. Lakukan prosedur baku kewaspadaan universal yaitu cuci tangan sebelum memakai sarung tangan
2. Petugas memakai alat pelindung:
* Sarung tangan karet yang panjang (sampai ke siku)
* Sebaiknya memakai sepatu bot sampai lutut
* Pelindung wajah (masker dan kaca mata)
* Jubah atau celemek, sebaiknya yang kedap air
3. Jenazah dimandikan oleh petugas kamar jenazah yang telah memahami cara membersihkan/memandikan jenazah penderita penyakit menular
4. Bungkus jenazah dengan kain kaifan atau kain pembungkus lain sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianut
5. Cuci tangan dengan sabun sebelum memakai sarung tangan dan sesudah melepas sarung tangan
6. Jenazah yang telah dibungkus tidak boleh dibuka lagi
7. Jenazah tidak boleh dibalsem atau disuntik untuk pengawetan kecuali oleh petugas khusus yang telah mahir dalam hal tersebut
8. Jenazah tidak boleh diotopsi. Dalam hal tertentu otopsi dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan dari pimpinan rumah sakit dan dilaksanakan oleh petugas yang telah mahir dalam hal tersebut
9. Beberapa hal lain yang perlu diperhatikan adalah:
* Segera mencuci kulit dan permukaan lain dengan air mengalir bila terkena darah atau cairan tubuh lain
* Dilarang memanipulasi alat suntik atau menyarumkan jarum suntik ke tutupnya. Buang semua alat/benda tajam dalam wadah yang tahan tusukan
* Semua permukaan yang terkena percikan atau tumpahan darah dan/atau cairan tubuh lain segera dibersihkan dengan larutan klorin 0,5%
* Semua peralatan yang akan digunakan kembali harus diproses dengan urutan: dekontaminasi, pembersihan, disinfeksi atau sterilisasi
* Sampah dan bahan terkontaminasi lainnya ditempatkan dalam kantong plastik
* Pembuangan sampah dan bahan yang tercemar sesuai cara pengelolaan sampah medis

Diambil dari ‘Pedoman Tatalaksanaan Klinis Infeksi HIV di Sarana Pelayanan Kesehatan’ halaman 198-199, terbitan PPM & PL Depkes 2001
Edit terakhir: 7 Juli 2006

Mei 24, 2008 Posted by | Perawatan Jenazah | Tinggalkan komentar

Mati Mahal ala Batavia

Jasa pemakaman berbenah menjadi bisnis nan menggiurkan
Merawat jenazah ternyata menjadi lahan bisnis yang menguntungkan, mendompleng di sela-sela misi sosial. Caranya, subsidi silang dari orang kaya ke orang miskin. Tak ada salahnya menyiapkan kematian karena banyak tawaran untuk meringankan keluarga yang akan ditinggalkan.
Ulin Ni’am Y., Femi Adi Soempeno, Jacob Jahja, Harris Hadinata

Pagi itu di kawasan Bitung, Tangerang, sekerumunan orang baru saja turun iring-iringan mobil mewah. Berpakaian serbahitam, mereka menuju sebuah gedung mentereng, bergaya Eropa, yang bernama Oasis Lestari-nama yang menyejukkan hati. Tapi, orang-orang perlente itu bukannya lagi menghadiri suatu keriaan dengan dress code hitam-hitam. Mereka justru tengah melayat handai tolan yang meninggal.

Oasis Lestari, rumah besar yang berdiri di atas lahan seluas empat hektare itu, memang rumah duka, rumah abu, dan krematorium. Namun, penampilannya jauh lebih megah ketimbang kebanyakan gedung perkawinan. Di halamannya terhampar taman nan asri dan jalur untuk jalan-jalan. Tak heran, banyak pelayat yang datang menyempatkan diri santai sejenak mengitari kawasan rumah duka dan krematorium itu, baik seusai mengikuti upacara pembakaran jenazah atau selagi menunggu rombongan lain datang.

Toh, namanya juga krematorium, tetap saja kental aroma pembakaran mayat. Di sini tersedia dua oven berbahan bakar gas yang mampu menjadikan tubuh menjadi abu hanya dalam tempo dua jam. “Baru lihat ovennya saja mau pingsan. Apalagi kalau lihat orang yang didorong kemari,” gurau Felice, karyawan krematorium. Silakan merinding kalau membayangkan proses pembakaran mayat laiknya membakar keramik. Tapi, ritual ini sudah biasa buat sebagian orang beragama non-Islam, khususnya keturunan China.

Meski jasa seperti Oasis itu harus berkubang dengan orang mati, tidak demikian kalau menilik perputaran uang yang keluar-masuk di meja kasir. Jangankan bau anyir, yang ada malah bau wangi. Ya, jasa pemakaman dengan segala tetek-bengeknya memang sudah menjadi bisnis yang digarap serius. Sebagai pemilik, Dana Pensiun Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) superserius dalam mengelola bisnis Oasis Lestari. Modal yang digelontorkan sampai Rp 38 miliar.

Jadi, jangan bayangkan urusan kematian hanya berurusan air mata. Ini sudah menjadi peluang usaha. “Kami enggak berharap meninggal. Tapi kan banyak orang yang meninggal di Jakarta. Pasti dari sebagian itu ada yang ingin dikremasi,” papar Schreurs CICM, biarawan yang menjabat Ketua Badan Pengurus Dana Pensiun KWI, sekaligus pendiri Oasis Lestari.

Sejak soft launching April lalu, sudah 30 jenazah yang diperabukan di sini. Hitung saja totalnya bila ongkos kremasi Rp 2,3 juta untuk orang dewasa (peti besar) dan Rp 1,8 juta untuk peti kecil. Tak beda jauhlah dengan krematorium lain. Untuk biaya segitu, pelayanan yang diberikan Oasis Lestari terbilang komplet: mulai dari guci dan kantong, sewa Toyota Avanza untuk mengantar ke pelarangan, dan kapal berbangku 6-10 orang di Tanjungkait yang jaraknya 40 km dari Oasis. Kelebihan Oasis, “Desain lokasi kami terintegrasi, kebun yang indah, dan kolam serta suasana yang nyaman,” ujar Schreurs. Oh, ya, Oasis lagi dalam masa promosi, lo, jadi tarifnya itu masih tarif promosi.

Ada monopoli mengurus mayat

Selain Oasis, di Jakarta ini banyak berdiri rumah duka. Sebutlah Husada, Saint Carolus, Cikini, Sumber Waras, Harapan Kita, Sulianti Saroso, Boen Tek Bio, Bandengan, dan Atmajaya. Aneka perawatan jenazah pun beragam.

Satu contoh, Yayasan Bunga Kemboja (YBK) mematok harga Rp 1,3 juta untuk mengurus jenazah usia di atas lima tahun dan beragama Islam. Untuk perawatan jenazah di bawah usia lima tahun, tarifnya Rp 1,1 juta. Untuk jenazah Kristen dan nonmuslim lainnya Rp 900.000. Harga tersebut belum termasuk sewa ambulan Rp 300.000 untuk dalam kota Jakarta dan sekitarnya. “Untuk luar kota ada harganya sendiri,” ujar Susan W., Kepala Bagian Operasional YBK.

Urusan transportasi jenazah ini memang bisa menjadi unit bisnis yang lumayan. Di Yayasan Pelayanan Pemakaman RS St Carolus, tarif pengiriman jenazah ke luar kota berkisar Rp 1,5 juta-Rp 2 juta. “Untuk muslim kita pinjami peti, karena muslim enggak perlu peti,” ujar Rentje Alfrits, Manajer Yayasan Pelayanan Pemakaman St Carolus. Adapun Yayasan Melati Suci mematok biaya pengiriman ke luar kota Rp 2.500 per kilometer.

Agar tidak memusingkan keluarga yang tengah berduka, biasanya yayasan-yayasan itu memberi pelayanan secara paket. Yayasan Melati Suci, misalnya, menawarkan paket paling murah Rp 500.000. Tarif segitu sudah termasuk kain kafan, bau-bauan kayu cendana, plus nisan sementara dari kayu. “Itu bukan harga baku. Kalau mereka mengeluh enggak mampu, ya kita kasih kurangi sampai nol persen,” ujar A.D. Kusumah, Manajer Yayasan Melati Suci.

Lain lagi paket yang disodorkan Yayasan Tabitha. Mereka tidak hanya menyediakan ambulan, peti jenazah, dan merias jenazah, namun juga pengurusan surat kematian. Selain itu, “Kami membantu untuk menyiarkan di Radio Pelita Kasih secara free,” ujar Andreas Winata, Ketua Umum Perkumpulan Penghiburan Kedukaan Tabitha.

Di saat orang-orang semakin sibuk dengan urusan masing-masing, bisnis layanan orang mati ini tumbuh subur bak bunga kamboja di musim semi. Tak kurang ada 50 yayasan di Jakarta yang hidup di bisnis kematian ini. Jenis usahanya mulai dari rumah duka saja, angkutan mobil jenazah saja, rumah abu saja, hingga pelayanan pemakaman dari A-Z. Yayasan itu pun berlomba meningkatkan daya saing, termasuk harga paket-paket pengurusan jenazah.

Sebut misalnya untuk jasa rumah duka, Yayasan Tabitha mematok uang mulai dari Rp 300.000 sampai Rp 750.000 per tanggal. Maksudnya, tarif sewa itu dihitung mulai tanggal masuk hingga tanggal keluar. Jadi, kalau masuk pukul 23.00 dan keluar pukul 14.00 keesokan harinya, dihitung dua hari. Bandingkan dengan Oasis Lestari, per tanggalnya Rp 750.000 di aula besar dan Rp 600.000 di aula kecil. Oasis punya tujuh aula rumah duka sebagai persemayaman sementara jenazah, yang dilengkapi dengan AC dan sound system yang memadai.

Saking ketatnya mereka bersaing, sampai ada indikasi salip-menyalip yang cenderung mengarah ke persaingan tidak sehat. Yayasan-yayasan sosial yang nakal itu secara ekstrem tak ubahnya lembaga bisnis ini yang memperebutkan mayat. “Pemerintah kok mengizinkan yayasan yang menguasai monopoli satu rumah sakit,” keluh A.D. Kusumah. Praktek monopoli yang terjadi, kalau ada pasien meninggal wajib ditangani yayasan tertentu. Padahal, biasanya keluarga jenazah meminta bantuan yayasan dengan mempertimbangkan latar belakangnya. Pernah satu kali pengalaman Yayasan Melati Suci diusir dari suatu rumah sakit dengan alasan jenazah sudah diurus yayasan yang bekerja sama dengan rumah sakit itu. “Buat apa ribut rebutan mayat? Kalau bersaing harusnya terbuka,” tukas Kusumah.

Nah, untuk menepis tudingan soal terjadinya komersialisasi orang mati, sejumlah yayasan memberlakukan subsidi silang. Maksudnya, untuk keluarga kaya ditarik harga yang wajar, tapi untuk keluarga miskin malah digratiskan. “Enggak ada duit enggak masalah, yang penting ada surat keterangan tidak mampu,” kata Rentje Alfrits. Hal yang sama dilakukan di Yayasan Melati Suci yang menggantungkan donatur untuk menyantuni orang miskin.

Cara yang dilakukan yayasan itu bermacam-macam. Bisa memasang tarif yang lebih tinggi untuk keluarga kaya, bisa pula mengandalkan donatur yang rutin menyumbang per bulan. Namun, langkah Oasis Lestari ini boleh juga disimak. Mereka mengelola dana milik 20.000 anggota Dana Pensiun KWI dengan menaruhnya ke dalam beberapa keranjang investasi, seperti deposito, obligasi, pasar modal, reksadana, serta investasi tanah. “Ini supaya kita bisa bayar dana pensiun, dan kalau meninggal bisa dilayani dengan baik dan tempat yang layak,” tutur Schreurs. Jadi, bau busuk mayat bisa juga menjadi wangi di tangan orang berwawasan bisnis.
+++++

“Member Get Member” Calon Jenazah

Laiknya arisan atau pengajian di kampung, pengelola jasa pemakaman juga membuat program keanggotaan. Mirip komunitas hobi, klub ini menerima anggota baru yang mempersiapkan diri kalau mati tiba-tiba menjemputnya. Program keanggotaan ini intinya membantu agar keluarga yang ditinggalkan tak kerepotan mengurus jenazah, termasuk pembiayaannya. Caranya simpel: calon anggota hanya membayar uang pangkal yang besarnya puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah, tergantung pengelolanya. Setelah itu membayar iuran rutin yang bisa dibayarkan per bulan atau per tahun.

Untuk mendapatkan pelayanan Yayasan Bunga Kemboja (YBK) bila mati menjemput, anggota cukup membayar uang pangkal Rp 15.000 dan ongkos pengganti kartu anggota Rp 5.000. Habis itu membayar iuran bulanan Rp 5.000. Yayasan ini akan menanggung seluruh biaya pelayanan di luar tanah kuburan, kendati si anggota meninggal baru beberapa bulan bergabung. “Enggak perlu nambah lagi. Itu semua sudah menjadi fasilitas anggota,” terang Susan W., Kepala Bagian Operasional Yayasan Bunga Kemboja. Yayasan ini menerima anggota dari agama apa pun. Anggota juga mendapatkan diskon 10% untuk ongkos pengiriman jenazah ke luar kota.

Lain halnya di Yayasan Tabitha Jakarta, yang mencatat tak kurang dari 24.000 orang sebagai anggota. Di yayasan yang berdiri sejak Juli 1968 ini ada dua program keanggotaan, yaitu peserta reguler dan peserta peduli. Peserta reguler membayar uang pangkal Rp 300.000 untuk kelas I, Rp 200.000 kelas II, dan Rp 100.000 kelas III. Iuran bulanannya mulai dari Rp 12.000 untuk kelas I, Rp 8.000 kelas II, dan Rp 4.000 kelas III. “Yang membedakan kelas itu hanya jenis petinya,” ujar Andreas Winata, Ketua Umum Perkumpulan Penghiburan Kedukaan Tabitha.

Adapun peserta peduli cukup membayar sekali seumur hidup sebesar Rp 2 juta. “Jika beberapa puluh tahun lagi dia meninggal dan biayanya pelayanannya sudah berlipat-lipat, kami tidak meminta tambahan biaya,” kata Andreas. Namun, untuk menjadi peserta peduli ada syarat umur maksimal 45 tahun. Kalau golongan umur yang lebih tua ingin juga bergabung, ia harus membayar biaya tambahan mulai dari Rp 3 juta sampai Rp 3,8 juta. Tapi, biaya tambahan itu bisa dibebaskan bila ia membawa anggota baru berumur 45 tahun ke bawah. Ya, mirip program member get member kartu kredit. “Bawa gandengan, maka Anda tetap bayar Rp 2 juta,” ujar Andreas.

Memang, mirip bisnis lazimnya. Maklum, sesosial-sosialnya yayasan, toh mereka perlu duit untuk beli peti, kain, BBM ambulan, juga ongkos perawatan rumah duka.
+++++

Gentayangan Pungli buat Orang Mati

Sejak tangis pertama memecah dunia, tanda anak manusia terlahir sudah membutuhkan uang. Demikian juga meninggalkan dunia, tak lepas dari uang. Beruntung kalau punya kantong tebal, semua kebutuhan bisa diatasi. Bagaimana tidak. Meninggal di Jakarta ini sudah demikian mahal. Harga sewa lahan pemakaman paling murah Rp 100.000 untuk tiga tahun.

Pada taman pemakaman umum (TPU) yang menerapkan desain makam dengan menggunakan rumput, pengguna jasa dipatok biaya pemadatan tanah dan pembentukan makam, perawatan rumput, dan biaya perawatan Rp 200.000. Bila makam menginginkan pengerasan dengan menggunakan bata blok, pasir, dan semen dikenai biaya Rp 300.000. Untuk biaya pembuatan nisan, baik berupa marmer putih, hitam, keramik lengkap dengan tulisan cat putih atau emas, serta kelengkapan vas bunga dekat batu nisan, harganya berkisar Rp 550.000-Rp 1.500.000. Total jenderal biaya rumah orang mati di Jakarta bisa mencapai Rp 5 juta. Itu sudah termasuk sewa tenda, bangku, dan pengurusan surat-surat.

Harga sewa lahan di setiap TPU memang berbeda-beda. Maklum, harga sepetak tanah kubur memang tidak ada standarnya. “Ini sama saja beli tanah buat bangun rumah, kayak KPR BTN,” ujar Susan W., Kepala Bagian Operasional Yayasan Bunga Kemboja.

Membengkaknya biaya kematian sebenarnya menjengkelkan. Pasalnya, merunut Perda DKI Jakarta terbaru, retribusi tanah makam hanya Rp 100.000. Faktanya praktek pungutan liar atawa pungli tetap saja ada, bukan hanya di pasar, bahkan sampai di kuburan. Besarnya pungli untuk satu liang kubur bisa mencapai Rp 3 juta-Rp 6 juta. Celakanya, siapa bisa menolak kuasa pungli di sela kedukaan yang melanda.
+++++

Bisnis Abu nan Menguntungkan

Dari abu kembali ke abu. Begitulah pandangan sebagian orang terhadap asal usul manusia hingga kembali ke asalnya. Nah, dari ritual kematian inilah hadir berbagai-bagai bisnis rumah abu.

Biasanya, rumah abu itu berfungsi untuk meletakkan abu jenazah, baik sebelum dilarung ke laut maupun untuk ditempatkan permanen. Maklum, kepercayaan China melarung abu ke laut juga harus memperhatikan waktu dan hari, jadi tak bisa sembarang hari. Rumah abunya sendiri bukan sekadar ruang berisi rak-rak, lemari, atau bufet biasa. Lihat saja di Oasis Lestari, Tangerang. Di rumah duka ini juga disediakan aula untuk upacara peringatan. Bagi keluarga yang lebih suka abu ditabur juga disediakan taman bunga khusus menabur abu jenazah.

Bagi orang China, menaruh abu itu ada filosofinya. Misalnya, abu dilarung ke laut karena laut itu jalan untuk menuju ke surga. Kalau ditaruh di rumah, biasanya mereka ingin agar yang meninggal itu masih dekat dengan keluarganya. Untuk sementara, di Oasis sudah ada 360 kotak. “Ini baru permulaan. Kalau kurang, kami bisa membuat lagi, soalnya tanah juga masih luas,” ujar Schreurs CICM, pendiri Oasis Lestari.

Ada dua model kotak abu. Yakni, yang transparan berbahan baku kaca dan yang tertutup marmer. Kotak sewaktu-waktu bisa dibuka kalau ada peringatan 40 hari, 1 tahun, atau 2 tahun Di depan kotak-kotak itu ada kolam yang memberi nuansa adem. Lantaran pelayanan yang mewah itu, biaya penyimpanan abu ini mencapai Rp 4 juta-Rp 5 juta per tahun. Sewanya boleh 1 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 25 tahun.

Yang unik, Oasis juga menyediakan memorial wall, untuk mencatatkan nama bahwa si almarhum sudah meninggal. “Seperti di Amerika, namanya dipahatkan di memorial wall,” ujar Schreurs.

Nah, bagi yang mau nama almarhum tercatat di dinding kenangan, Oasis menyediakan wadah donasi. “Bisa Rp 5 juta, Rp 6 juta, bisa Rp 10 juta, itu nanti dijual per nama. Tapi, tarif ini masih belum final,” imbuh Schreurs.
+++++

Kuburan Realestat Anti-gusur

Tak bayar kena gusur. Itu kata yang tepat menggambarkan betapa mahalnya harga sepetak tanah kubur. Biasanya, bila dalam tempo tiga tahun tak ada dari pihak keluarga yang datang untuk membayar sewa, maka nisan penanda anggota keluarga yang telah wafat akan dicabut dan kuburan itu akan digali lagi untuk menguburkan jasad lain. Maklum, orang mati terus bertambah, sementara areal pemakaman, ya, itu-itu saja. Sangat sedikit kompleks kuburan baru yang dibuka.

Inilah yang mengilhami beberapa pengembang properti melirik bisnis kuburan. Taman Memorial Graha Sentosa dan Taman Kenangan Lestari, keduanya di Karawang, mengembangkan kuburan eksklusif. Di kawasan perbukitan seluas 200 hektare, Taman Memorial menawarkan berbagai jenis kaveling pemakaman, mulai dari kelas single ukuran 2 x 5 meter, double ukuran 4 x 6 meter, family lot dengan ukuran kaveling 8 x 12 meter, grand family 16 x 24 meter, dan royal family dengan ukuran kaveling 24 m x 36 m. Harga yang dipatok mulai Rp 9,75 juta untuk makam single dan Rp 800,5 juta untuk harga kaveling makam royal family.

Sementara itu, Taman Kenangan Lestari menetapkan harga Rp 16 juta untuk kaveling single ukuran 2 x 5 meter, Rp 60 juta untuk double lot (6 m x 8 m), dan seterusnya. Hingga, yang paling mewah royal family-seluas 1.500 m2-dihargai Rp 1 miliar, dengan kepemilikan kavling tanpa batas waktu dan bebas biaya perawatan.

Taman Kenangan, yang dikelola PT Alam Hijau Lestari, menjalankan bisnis orang mati di atas lahan seluas 32 hektare. Namun, setelah resmi dipasarkan sejak Agustus 2003, tanah yang siap dijual itu justru menuai masalah. Ternyata, belakangan terbongkar areal itu tanah negara yang dijual di bawah harga resmi. Akibatnya, negara dirugikan Rp 731 juta. Bupati Karawang Ahmad Dadang dan tiga pejabat eselon II dan III di lingkungan Pemerintah Kabupaten Karawang secara resmi ditetapkan Polwil Purwakarta sebagai tersangka dalam kasus tindak pidana korupsi.

Maunya untung malah buntung. Jadi, tetaplah berhati-hati membeli rumah masa depan ini. Salah-salah, kuburan sanak saudara kita juga kena gusur seperti pedagang kaki lima di Senen yang berjualan tanpa izin dan mengganggu ketertiban.

sumber
http://www.kontan-online.com No. 44, Tahun IX, 8 Agustus 2005

Mei 24, 2008 Posted by | Perawatan Jenazah | Tinggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Mei 24, 2008 Posted by | Uncategorized | 2 Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.