Prospek Muhammadiyah Indonesia

Just another WordPress.com weblog

Mati Mahal ala Batavia

Jasa pemakaman berbenah menjadi bisnis nan menggiurkan
Merawat jenazah ternyata menjadi lahan bisnis yang menguntungkan, mendompleng di sela-sela misi sosial. Caranya, subsidi silang dari orang kaya ke orang miskin. Tak ada salahnya menyiapkan kematian karena banyak tawaran untuk meringankan keluarga yang akan ditinggalkan.
Ulin Ni’am Y., Femi Adi Soempeno, Jacob Jahja, Harris Hadinata

Pagi itu di kawasan Bitung, Tangerang, sekerumunan orang baru saja turun iring-iringan mobil mewah. Berpakaian serbahitam, mereka menuju sebuah gedung mentereng, bergaya Eropa, yang bernama Oasis Lestari-nama yang menyejukkan hati. Tapi, orang-orang perlente itu bukannya lagi menghadiri suatu keriaan dengan dress code hitam-hitam. Mereka justru tengah melayat handai tolan yang meninggal.

Oasis Lestari, rumah besar yang berdiri di atas lahan seluas empat hektare itu, memang rumah duka, rumah abu, dan krematorium. Namun, penampilannya jauh lebih megah ketimbang kebanyakan gedung perkawinan. Di halamannya terhampar taman nan asri dan jalur untuk jalan-jalan. Tak heran, banyak pelayat yang datang menyempatkan diri santai sejenak mengitari kawasan rumah duka dan krematorium itu, baik seusai mengikuti upacara pembakaran jenazah atau selagi menunggu rombongan lain datang.

Toh, namanya juga krematorium, tetap saja kental aroma pembakaran mayat. Di sini tersedia dua oven berbahan bakar gas yang mampu menjadikan tubuh menjadi abu hanya dalam tempo dua jam. “Baru lihat ovennya saja mau pingsan. Apalagi kalau lihat orang yang didorong kemari,” gurau Felice, karyawan krematorium. Silakan merinding kalau membayangkan proses pembakaran mayat laiknya membakar keramik. Tapi, ritual ini sudah biasa buat sebagian orang beragama non-Islam, khususnya keturunan China.

Meski jasa seperti Oasis itu harus berkubang dengan orang mati, tidak demikian kalau menilik perputaran uang yang keluar-masuk di meja kasir. Jangankan bau anyir, yang ada malah bau wangi. Ya, jasa pemakaman dengan segala tetek-bengeknya memang sudah menjadi bisnis yang digarap serius. Sebagai pemilik, Dana Pensiun Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) superserius dalam mengelola bisnis Oasis Lestari. Modal yang digelontorkan sampai Rp 38 miliar.

Jadi, jangan bayangkan urusan kematian hanya berurusan air mata. Ini sudah menjadi peluang usaha. “Kami enggak berharap meninggal. Tapi kan banyak orang yang meninggal di Jakarta. Pasti dari sebagian itu ada yang ingin dikremasi,” papar Schreurs CICM, biarawan yang menjabat Ketua Badan Pengurus Dana Pensiun KWI, sekaligus pendiri Oasis Lestari.

Sejak soft launching April lalu, sudah 30 jenazah yang diperabukan di sini. Hitung saja totalnya bila ongkos kremasi Rp 2,3 juta untuk orang dewasa (peti besar) dan Rp 1,8 juta untuk peti kecil. Tak beda jauhlah dengan krematorium lain. Untuk biaya segitu, pelayanan yang diberikan Oasis Lestari terbilang komplet: mulai dari guci dan kantong, sewa Toyota Avanza untuk mengantar ke pelarangan, dan kapal berbangku 6-10 orang di Tanjungkait yang jaraknya 40 km dari Oasis. Kelebihan Oasis, “Desain lokasi kami terintegrasi, kebun yang indah, dan kolam serta suasana yang nyaman,” ujar Schreurs. Oh, ya, Oasis lagi dalam masa promosi, lo, jadi tarifnya itu masih tarif promosi.

Ada monopoli mengurus mayat

Selain Oasis, di Jakarta ini banyak berdiri rumah duka. Sebutlah Husada, Saint Carolus, Cikini, Sumber Waras, Harapan Kita, Sulianti Saroso, Boen Tek Bio, Bandengan, dan Atmajaya. Aneka perawatan jenazah pun beragam.

Satu contoh, Yayasan Bunga Kemboja (YBK) mematok harga Rp 1,3 juta untuk mengurus jenazah usia di atas lima tahun dan beragama Islam. Untuk perawatan jenazah di bawah usia lima tahun, tarifnya Rp 1,1 juta. Untuk jenazah Kristen dan nonmuslim lainnya Rp 900.000. Harga tersebut belum termasuk sewa ambulan Rp 300.000 untuk dalam kota Jakarta dan sekitarnya. “Untuk luar kota ada harganya sendiri,” ujar Susan W., Kepala Bagian Operasional YBK.

Urusan transportasi jenazah ini memang bisa menjadi unit bisnis yang lumayan. Di Yayasan Pelayanan Pemakaman RS St Carolus, tarif pengiriman jenazah ke luar kota berkisar Rp 1,5 juta-Rp 2 juta. “Untuk muslim kita pinjami peti, karena muslim enggak perlu peti,” ujar Rentje Alfrits, Manajer Yayasan Pelayanan Pemakaman St Carolus. Adapun Yayasan Melati Suci mematok biaya pengiriman ke luar kota Rp 2.500 per kilometer.

Agar tidak memusingkan keluarga yang tengah berduka, biasanya yayasan-yayasan itu memberi pelayanan secara paket. Yayasan Melati Suci, misalnya, menawarkan paket paling murah Rp 500.000. Tarif segitu sudah termasuk kain kafan, bau-bauan kayu cendana, plus nisan sementara dari kayu. “Itu bukan harga baku. Kalau mereka mengeluh enggak mampu, ya kita kasih kurangi sampai nol persen,” ujar A.D. Kusumah, Manajer Yayasan Melati Suci.

Lain lagi paket yang disodorkan Yayasan Tabitha. Mereka tidak hanya menyediakan ambulan, peti jenazah, dan merias jenazah, namun juga pengurusan surat kematian. Selain itu, “Kami membantu untuk menyiarkan di Radio Pelita Kasih secara free,” ujar Andreas Winata, Ketua Umum Perkumpulan Penghiburan Kedukaan Tabitha.

Di saat orang-orang semakin sibuk dengan urusan masing-masing, bisnis layanan orang mati ini tumbuh subur bak bunga kamboja di musim semi. Tak kurang ada 50 yayasan di Jakarta yang hidup di bisnis kematian ini. Jenis usahanya mulai dari rumah duka saja, angkutan mobil jenazah saja, rumah abu saja, hingga pelayanan pemakaman dari A-Z. Yayasan itu pun berlomba meningkatkan daya saing, termasuk harga paket-paket pengurusan jenazah.

Sebut misalnya untuk jasa rumah duka, Yayasan Tabitha mematok uang mulai dari Rp 300.000 sampai Rp 750.000 per tanggal. Maksudnya, tarif sewa itu dihitung mulai tanggal masuk hingga tanggal keluar. Jadi, kalau masuk pukul 23.00 dan keluar pukul 14.00 keesokan harinya, dihitung dua hari. Bandingkan dengan Oasis Lestari, per tanggalnya Rp 750.000 di aula besar dan Rp 600.000 di aula kecil. Oasis punya tujuh aula rumah duka sebagai persemayaman sementara jenazah, yang dilengkapi dengan AC dan sound system yang memadai.

Saking ketatnya mereka bersaing, sampai ada indikasi salip-menyalip yang cenderung mengarah ke persaingan tidak sehat. Yayasan-yayasan sosial yang nakal itu secara ekstrem tak ubahnya lembaga bisnis ini yang memperebutkan mayat. “Pemerintah kok mengizinkan yayasan yang menguasai monopoli satu rumah sakit,” keluh A.D. Kusumah. Praktek monopoli yang terjadi, kalau ada pasien meninggal wajib ditangani yayasan tertentu. Padahal, biasanya keluarga jenazah meminta bantuan yayasan dengan mempertimbangkan latar belakangnya. Pernah satu kali pengalaman Yayasan Melati Suci diusir dari suatu rumah sakit dengan alasan jenazah sudah diurus yayasan yang bekerja sama dengan rumah sakit itu. “Buat apa ribut rebutan mayat? Kalau bersaing harusnya terbuka,” tukas Kusumah.

Nah, untuk menepis tudingan soal terjadinya komersialisasi orang mati, sejumlah yayasan memberlakukan subsidi silang. Maksudnya, untuk keluarga kaya ditarik harga yang wajar, tapi untuk keluarga miskin malah digratiskan. “Enggak ada duit enggak masalah, yang penting ada surat keterangan tidak mampu,” kata Rentje Alfrits. Hal yang sama dilakukan di Yayasan Melati Suci yang menggantungkan donatur untuk menyantuni orang miskin.

Cara yang dilakukan yayasan itu bermacam-macam. Bisa memasang tarif yang lebih tinggi untuk keluarga kaya, bisa pula mengandalkan donatur yang rutin menyumbang per bulan. Namun, langkah Oasis Lestari ini boleh juga disimak. Mereka mengelola dana milik 20.000 anggota Dana Pensiun KWI dengan menaruhnya ke dalam beberapa keranjang investasi, seperti deposito, obligasi, pasar modal, reksadana, serta investasi tanah. “Ini supaya kita bisa bayar dana pensiun, dan kalau meninggal bisa dilayani dengan baik dan tempat yang layak,” tutur Schreurs. Jadi, bau busuk mayat bisa juga menjadi wangi di tangan orang berwawasan bisnis.
+++++

“Member Get Member” Calon Jenazah

Laiknya arisan atau pengajian di kampung, pengelola jasa pemakaman juga membuat program keanggotaan. Mirip komunitas hobi, klub ini menerima anggota baru yang mempersiapkan diri kalau mati tiba-tiba menjemputnya. Program keanggotaan ini intinya membantu agar keluarga yang ditinggalkan tak kerepotan mengurus jenazah, termasuk pembiayaannya. Caranya simpel: calon anggota hanya membayar uang pangkal yang besarnya puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah, tergantung pengelolanya. Setelah itu membayar iuran rutin yang bisa dibayarkan per bulan atau per tahun.

Untuk mendapatkan pelayanan Yayasan Bunga Kemboja (YBK) bila mati menjemput, anggota cukup membayar uang pangkal Rp 15.000 dan ongkos pengganti kartu anggota Rp 5.000. Habis itu membayar iuran bulanan Rp 5.000. Yayasan ini akan menanggung seluruh biaya pelayanan di luar tanah kuburan, kendati si anggota meninggal baru beberapa bulan bergabung. “Enggak perlu nambah lagi. Itu semua sudah menjadi fasilitas anggota,” terang Susan W., Kepala Bagian Operasional Yayasan Bunga Kemboja. Yayasan ini menerima anggota dari agama apa pun. Anggota juga mendapatkan diskon 10% untuk ongkos pengiriman jenazah ke luar kota.

Lain halnya di Yayasan Tabitha Jakarta, yang mencatat tak kurang dari 24.000 orang sebagai anggota. Di yayasan yang berdiri sejak Juli 1968 ini ada dua program keanggotaan, yaitu peserta reguler dan peserta peduli. Peserta reguler membayar uang pangkal Rp 300.000 untuk kelas I, Rp 200.000 kelas II, dan Rp 100.000 kelas III. Iuran bulanannya mulai dari Rp 12.000 untuk kelas I, Rp 8.000 kelas II, dan Rp 4.000 kelas III. “Yang membedakan kelas itu hanya jenis petinya,” ujar Andreas Winata, Ketua Umum Perkumpulan Penghiburan Kedukaan Tabitha.

Adapun peserta peduli cukup membayar sekali seumur hidup sebesar Rp 2 juta. “Jika beberapa puluh tahun lagi dia meninggal dan biayanya pelayanannya sudah berlipat-lipat, kami tidak meminta tambahan biaya,” kata Andreas. Namun, untuk menjadi peserta peduli ada syarat umur maksimal 45 tahun. Kalau golongan umur yang lebih tua ingin juga bergabung, ia harus membayar biaya tambahan mulai dari Rp 3 juta sampai Rp 3,8 juta. Tapi, biaya tambahan itu bisa dibebaskan bila ia membawa anggota baru berumur 45 tahun ke bawah. Ya, mirip program member get member kartu kredit. “Bawa gandengan, maka Anda tetap bayar Rp 2 juta,” ujar Andreas.

Memang, mirip bisnis lazimnya. Maklum, sesosial-sosialnya yayasan, toh mereka perlu duit untuk beli peti, kain, BBM ambulan, juga ongkos perawatan rumah duka.
+++++

Gentayangan Pungli buat Orang Mati

Sejak tangis pertama memecah dunia, tanda anak manusia terlahir sudah membutuhkan uang. Demikian juga meninggalkan dunia, tak lepas dari uang. Beruntung kalau punya kantong tebal, semua kebutuhan bisa diatasi. Bagaimana tidak. Meninggal di Jakarta ini sudah demikian mahal. Harga sewa lahan pemakaman paling murah Rp 100.000 untuk tiga tahun.

Pada taman pemakaman umum (TPU) yang menerapkan desain makam dengan menggunakan rumput, pengguna jasa dipatok biaya pemadatan tanah dan pembentukan makam, perawatan rumput, dan biaya perawatan Rp 200.000. Bila makam menginginkan pengerasan dengan menggunakan bata blok, pasir, dan semen dikenai biaya Rp 300.000. Untuk biaya pembuatan nisan, baik berupa marmer putih, hitam, keramik lengkap dengan tulisan cat putih atau emas, serta kelengkapan vas bunga dekat batu nisan, harganya berkisar Rp 550.000-Rp 1.500.000. Total jenderal biaya rumah orang mati di Jakarta bisa mencapai Rp 5 juta. Itu sudah termasuk sewa tenda, bangku, dan pengurusan surat-surat.

Harga sewa lahan di setiap TPU memang berbeda-beda. Maklum, harga sepetak tanah kubur memang tidak ada standarnya. “Ini sama saja beli tanah buat bangun rumah, kayak KPR BTN,” ujar Susan W., Kepala Bagian Operasional Yayasan Bunga Kemboja.

Membengkaknya biaya kematian sebenarnya menjengkelkan. Pasalnya, merunut Perda DKI Jakarta terbaru, retribusi tanah makam hanya Rp 100.000. Faktanya praktek pungutan liar atawa pungli tetap saja ada, bukan hanya di pasar, bahkan sampai di kuburan. Besarnya pungli untuk satu liang kubur bisa mencapai Rp 3 juta-Rp 6 juta. Celakanya, siapa bisa menolak kuasa pungli di sela kedukaan yang melanda.
+++++

Bisnis Abu nan Menguntungkan

Dari abu kembali ke abu. Begitulah pandangan sebagian orang terhadap asal usul manusia hingga kembali ke asalnya. Nah, dari ritual kematian inilah hadir berbagai-bagai bisnis rumah abu.

Biasanya, rumah abu itu berfungsi untuk meletakkan abu jenazah, baik sebelum dilarung ke laut maupun untuk ditempatkan permanen. Maklum, kepercayaan China melarung abu ke laut juga harus memperhatikan waktu dan hari, jadi tak bisa sembarang hari. Rumah abunya sendiri bukan sekadar ruang berisi rak-rak, lemari, atau bufet biasa. Lihat saja di Oasis Lestari, Tangerang. Di rumah duka ini juga disediakan aula untuk upacara peringatan. Bagi keluarga yang lebih suka abu ditabur juga disediakan taman bunga khusus menabur abu jenazah.

Bagi orang China, menaruh abu itu ada filosofinya. Misalnya, abu dilarung ke laut karena laut itu jalan untuk menuju ke surga. Kalau ditaruh di rumah, biasanya mereka ingin agar yang meninggal itu masih dekat dengan keluarganya. Untuk sementara, di Oasis sudah ada 360 kotak. “Ini baru permulaan. Kalau kurang, kami bisa membuat lagi, soalnya tanah juga masih luas,” ujar Schreurs CICM, pendiri Oasis Lestari.

Ada dua model kotak abu. Yakni, yang transparan berbahan baku kaca dan yang tertutup marmer. Kotak sewaktu-waktu bisa dibuka kalau ada peringatan 40 hari, 1 tahun, atau 2 tahun Di depan kotak-kotak itu ada kolam yang memberi nuansa adem. Lantaran pelayanan yang mewah itu, biaya penyimpanan abu ini mencapai Rp 4 juta-Rp 5 juta per tahun. Sewanya boleh 1 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 25 tahun.

Yang unik, Oasis juga menyediakan memorial wall, untuk mencatatkan nama bahwa si almarhum sudah meninggal. “Seperti di Amerika, namanya dipahatkan di memorial wall,” ujar Schreurs.

Nah, bagi yang mau nama almarhum tercatat di dinding kenangan, Oasis menyediakan wadah donasi. “Bisa Rp 5 juta, Rp 6 juta, bisa Rp 10 juta, itu nanti dijual per nama. Tapi, tarif ini masih belum final,” imbuh Schreurs.
+++++

Kuburan Realestat Anti-gusur

Tak bayar kena gusur. Itu kata yang tepat menggambarkan betapa mahalnya harga sepetak tanah kubur. Biasanya, bila dalam tempo tiga tahun tak ada dari pihak keluarga yang datang untuk membayar sewa, maka nisan penanda anggota keluarga yang telah wafat akan dicabut dan kuburan itu akan digali lagi untuk menguburkan jasad lain. Maklum, orang mati terus bertambah, sementara areal pemakaman, ya, itu-itu saja. Sangat sedikit kompleks kuburan baru yang dibuka.

Inilah yang mengilhami beberapa pengembang properti melirik bisnis kuburan. Taman Memorial Graha Sentosa dan Taman Kenangan Lestari, keduanya di Karawang, mengembangkan kuburan eksklusif. Di kawasan perbukitan seluas 200 hektare, Taman Memorial menawarkan berbagai jenis kaveling pemakaman, mulai dari kelas single ukuran 2 x 5 meter, double ukuran 4 x 6 meter, family lot dengan ukuran kaveling 8 x 12 meter, grand family 16 x 24 meter, dan royal family dengan ukuran kaveling 24 m x 36 m. Harga yang dipatok mulai Rp 9,75 juta untuk makam single dan Rp 800,5 juta untuk harga kaveling makam royal family.

Sementara itu, Taman Kenangan Lestari menetapkan harga Rp 16 juta untuk kaveling single ukuran 2 x 5 meter, Rp 60 juta untuk double lot (6 m x 8 m), dan seterusnya. Hingga, yang paling mewah royal family-seluas 1.500 m2-dihargai Rp 1 miliar, dengan kepemilikan kavling tanpa batas waktu dan bebas biaya perawatan.

Taman Kenangan, yang dikelola PT Alam Hijau Lestari, menjalankan bisnis orang mati di atas lahan seluas 32 hektare. Namun, setelah resmi dipasarkan sejak Agustus 2003, tanah yang siap dijual itu justru menuai masalah. Ternyata, belakangan terbongkar areal itu tanah negara yang dijual di bawah harga resmi. Akibatnya, negara dirugikan Rp 731 juta. Bupati Karawang Ahmad Dadang dan tiga pejabat eselon II dan III di lingkungan Pemerintah Kabupaten Karawang secara resmi ditetapkan Polwil Purwakarta sebagai tersangka dalam kasus tindak pidana korupsi.

Maunya untung malah buntung. Jadi, tetaplah berhati-hati membeli rumah masa depan ini. Salah-salah, kuburan sanak saudara kita juga kena gusur seperti pedagang kaki lima di Senen yang berjualan tanpa izin dan mengganggu ketertiban.

sumber
http://www.kontan-online.com No. 44, Tahun IX, 8 Agustus 2005

Mei 24, 2008 - Posted by | Perawatan Jenazah

Belum ada komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: